03/10/11

Pesantren

Pesantren, pondok pesantren, atau disebut pondok saja, adalah sekolah Islam berasrama yang terdapat di Indonesia
Pendidikan di dalam pesantren bertujuan untuk memperdalam pengetahuan tentang al-Qur'an dan Sunnah Rasul, dengan mempelajari bahasa Arab dan kaidah-kaidah tata bahasa-bahasa Arab. Para pelajar pesantren (disebut sebagai santri) belajar di sekolah ini, sekaligus tinggal pada asrama yang disediakan oleh pesantren.Institusi sejenis juga terdapat di negara-negara lainnya; misalnya di Malaysia dan Thailand Selatan yang disebut sekolah pondok, serta di India dan Pakistan yang disebut madrasa Islamia.

Definisi pesantren
Istilah pesantren berasal dari kata pe-santri-an, dimana kata "santri" berarti murid dalam Bahasa Jawa Istilah pondok berasal dari Bahasa Arab funduuq (فندوق) yang berarti penginapan. Khusus di Aceh, pesantren disebut juga dengan nama dayah. Biasanya pesantren dipimpin oleh seorang Kyai. Untuk mengatur kehidupan pondok pesantren, kyai menunjuk seorang santri senior untuk mengatur adik-adik kelasnya, mereka biasanya disebut lurah pondok. Tujuan para santri dipisahkan dari orang tua dan keluarga mereka adalah agar mereka belajar hidup mandiri dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan dengan kyai dan juga Tuhan.
Pendapat lainnya, pesantren berasal dari kata santri yang dapat diartikan tempat santri. Kata santri berasal dari kata Cantrik (bahasa Sansakerta, atau mungkin Jawa) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru, yang kemudian dikembangkan oleh Perguruan Taman Siswa dalam sistem asrama yang disebut Pawiyatan. Istilah santri juga dalam ada dalam bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji, sedang C. C Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari istilah shastri, yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu Terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata saint (manusia baik) dengan suku kata tra (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.
Pesantren pada mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyiaran agama Islam Namun, dalam perkembangannya, lembaga ini semakin memperlebar wilayah garapannya yang tidak melulu mengakselerasikan mobilitas vertical (dengan penjejelan materi-materi keagamaan), tetapi juga mobilitas horizontal (kesadaran sosial). Pesantren kini tidak lagi berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan (regional-based curriculum) dan cenderung melangit, tetapi juga kurikulum yang menyentuh persoalan kikian masyarakat (society-based curriculum). Dengan demikian, pesantren tidak bisa lagi didakwa semata-mata sebagai lembaga keagamaan murni, tetapi juga (seharusnya) menjadi lembaga sosial yang hidup yang terus merespons carut marut persoalan masyarakat di sekitarnya.
Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang merupakan produk budaya Indonesia.Keberadaan Pesantren di Indonesia dimulai sejak Islam masuk negeri ini dengan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan yang sebenarnya telah lama berkembang sebelum kedatangan Islam.Sebagai lembaga pendidikan yang telah lama berurat akar di negeri ini, pondok pesantren diakui memiliki andil yang sangat besar terhadap perjalanan sejarah bangsa.
Banyak pesantren di Indonesia hanya membebankan para santrinya dengan biaya yang rendah, meskipun beberapa pesantren modern membebani dengan biaya yang lebih tinggi. Meski begitu, jika dibandingkan dengan beberapa institusi pendidikan lainnya yang sejenis, pesantren modern jauh lebih murah. Organisasi massa (ormas) Islam yang paling banyak memiliki pesantren adalah Nahdlatul Ulama (NU). Ormas Islam lainnya yang juga memiliki banyak pesantren adalah Al-Washliyah dan Hidayatullah.

30/08/11

Lapan: Tiada Teleskop Mampu Lihat Hilal Rendah

Jakarta (ANTARA) - Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof Dr Thomas Djamaluddin mengatakan, sampai saat ini di dunia tidak ada teleskop yang mampu melihat hilal di ketinggian di bawah empat derajat.


"Problemnya dengan teleskop secanggih apa pun, baik cahaya hilal dan cahaya senja di ufuk sama-sama diperkuat, sehingga hilal di ketinggian rendah tetap sulit terlihat," kata Thomas Djamaluddin di Jakarta, Minggu.
Ia menanggapi tentang adanya perbedaan pendapat dalam menentukan penanggalan Hijriyah seperti penentuan 1 Syawal, 1 Ramadhan dan lainnya yakni kriteria wujudul hilal yang menekankan hanya pada hisab dan kriteria Imkan Rukyat yang mengharuskan visibilitas hilal di samping hisab.
"Ketinggian hilal sangat rendah pada 29 Ramadhan (29 Agustus) yakni di bawah dua derajat, maka kemungkinan besar rukyat itu akan gagal melihat hilal, sehingga Ramadhan digenapkan 30 hari dan Idul Fitri seharusnya jatuh pada 31 Agustus," kata Djamal.
Pakar antariksa yang juga anggota Badan Hisab dan Rukyat (BHR) itu menegaskan, cahaya hilal dan cahaya senja berasal dari matahari, jadi panjang gelombangnya sama dan tidak bisa difilter.
Tidak ada teknologi yang mampu melihat hilal (bulan sabit) di bawah empat derajat, dan secara teori pun tidak ada teknologi yang bisa mengatur tingkat kekontrasan agar hilal bisa lebih tampak dibanding cahaya senja, kecuali ada teknologi yang bisa mematahkan teori tersebut.
"Kriteria hisab yang saat ini digunakan oleh Muhammadiyah seharusnya diperbaiki, kriteria tersebut terlalu sederhana," katanya sambil menekankan pentingnya penyatuan kriteria penentuan tanggal Hijriyah.
Agar bisa merukyat bulan, ujarnya, jarak bulan dan matahari minimal 6,4 derajat dan beda tinggi bulan dan matahari dari ufuk minimal empat derajat. Jadi hilal baru bisa teramati jika melebihi kriteria itu.
Ormas seperti Persis (Persatuan Islam) juga menggunakan wujudul hilal tapi dengan syarat ketinggian hilal yang layak dirukyat, katanya.
"Muhammadiyah sebagai ormas Islam modern jangan terjebak oleh kriteria wujudul hilal. Kriteria yang digunakan Muhammadiyah saat ini adalah metode lama yang sudah usang," tegasnya dengan nada yang diperkeras.

Arab Saudi Juga Rayakan Idul Fitri Selasa 30 Agustus

Jakarta - Kapan Hari Raya Idul Fitri dirayakan di Arab Saudi? Pemerintah Arab Saudi baru saja mengumumkan 1 Syawal 1423 Hijriyah jatuh pada Selasa, 30 Agustus 2011, besok.

Idul Fitri akan jatuh pada 30 Agustus, yang juga berarti berakhirnya bulan Ramadan. Demikian breakingnews yang dimuat di laman Al Arabiya News, Senin (29/8/2011).

Sebelumnya, Malaysia juga akan merayakan Idul Fitri pada Selasa, besok. Penetapan hari raya umat Islam di negeri jiran itu disampaikan oleh Penyimpan Mohor Besar Raja-raja, Datuk Syied Danial Syed. Keputusan tersebut didasarkan pada rukiyat dan hisab di 30 tempat di seluruh Malaysia.

"Bagi menyempurnakan titah perintah Sri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agung, dengan ini saya mengumumkan Hari Raya Idul Fitri di seluruh Malaysia telah ditetapkan pada hari Selasa 30 Agustus 2011," kata Danial.

Berbeda dengan Arab Saudi maupun Malaysia, Pemerintah RI memutuskan Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Rabu (31/8/2011). Keputusan diambil setelah Menteri Agama Suryadharma Ali yang memimpin sidang mendengarkan 12 pandangan ormas Islam dalam sidang isbath di Kementerian Agama.